Siapa yang belum kenal kacang goreng, jajanan yang berasal dari bahan dasar kacang tanah ini di Tulungagung ternyata ada yang memproduksinya dan hingga sekarang kacang goreng yang diolah beberapa warga kota Marmer ini sudah mampu menguasai pasar Jatim bagian selatan.
Mukayat (69 th) warga Dusun Kleben Desa Tiudan Kecamatan Gondang adalah salah seorang pengusaha camilan kacang goreng semenjak tahun 1978 silam dan berkat ketelatenannya menggeluti usaha ini hingga sekarang pangsa pasar untuk produksi makanan ringannya hampir mencapai seluruh wilayah selatan Jawa Timur yaitu Tulungagung, Blitar, Kediri, Trenggalek dan sebagian Ponorogo, serta Nganjuk.
Saat proses produksi, Mukayat hanya dibantu beberapa pekerja, “Dalam mebuat kacang goreng ini tidak begitu sulit, tapi hanya membutuhkan ketelatenan saja pada waktu mulai memisahkan kacang tanah dengan tanah yang masih menempel pada kacang serta menjemurnya,” ujarnya.
Untuk pemasaran menurut Mukayat juga tidak terlalu sulit hal ini dikarenakan para pedagang yang ada di wilayah Jawa Timur sudah banyak yang mengenal produksinya dan mereka setiap minggu memesan produknya dengan jumlah besar. “Kacang Goreng yang saya buat ini biasa dipesan oleh para pedagang luar kota, bahkan ada yang berasal dari daerah Lamongan memesan dalam jumlah besar,” ujar bapak dua orang putra ini.
Dengan proses pembuatan kurang lebih selama 3 hingga 5 hari, suami dari Suratun ini mampu memproduksi kacang goreng siap saji per minggu sekitar 5 kwintal dengan harga per kilogram rata-rata Rp. 10.000,00 untuk jenis kacang biasa dan Rp. 11.000,00 untuk jenis kacang hibrida.
Meski terus berproduksi, berbagai kendala juga dialami oleh pembuat kacang goreng ini, “Untuk kendala selain cuaca tidak menentu yang menyebabkan produksi tidak stabil, juga faktor bahan dasar yang berasal dari kacang tanah yang terkadang sulit didapat, sehingga belum bisa membuat dalam jumlah banyak, untuk mengatasi hal ini kami mencari solusi degan mencari bahan dasar hingga dari daerah Nganjuk.” (Nug/Humas)