Sejarah Tidak Mengenal Tanda Titik (Resensi Buku Girindra)

Judul buku: GIRINDRA: Pararaja Tumapel – Majapahit
Penulis: Siwi Sang
Penyunting: Tjut Zakiyah Anshari
Cetakan: I/Desember 2013
Penerbit: Pena Ananda Indie Pusblishing, Tulungagung
ISBN: 978-602-98200-6-5
Tebal: xxiv + 284 halaman

Jika anak sekolah ditanya, pada era kepemimpinan siapakah, kerajaan Majapahit mengalami zaman kejayaan? Maka kita akan memperoleh jawaban, “Tatkala diperintah oleh Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.” Jawaban ini memang tidak salah, faktanya memang begitu. Persoalannya, terletak pada pemahaman yang keliru karena konsep penggabungan penguasanya yang kurang tepat. Pada akhirnya memunculkan prasangka yang salah karena dikiranya kejayaan Majapahit ketika yang bertahta adalah duet Hayam Wuruk sebagai raja dan Gajah Mada sebagai mahapatihnya.

Pemahaman yang keliru terlanjur terpateri karena memang begitulah pelajaran sejarah yang diterima. Apalagi panyampaiannya pun sepotong-sepotong, tidak utuh. Padahal kenyataannya, ketika Hayam Wuruk memerintah, dia masih sangat remaja, masih berusia 16 tahun (h. 179). Sedangkan Gajah Mada sudah begitu sepuh.

Sebenarnya jauh sebelum itu, dan ini luput dari perhatian khalayak, sebenarnyalah zaman keemasan Majapahit telah tumbuh berkat duet kepemimpinan dwitunggal Maharaja Tribhuwanatunggadewi dengan Mahapatih Gajah Mada (h. 174). Sedangkan masa pemerintahan Majapahit kemudian dilanjutkan oleh Hayam Wuruk, setelah ibundanya, Tribhuwanatunggadewi wafat. Gajah Mada hanya sempat mendampingi Hayam Wuruk selama 7 tahun, sebelum akhirnya mengasingkan diri, dan kemudian wafat pada tahun 1368 (h. 199).

Membicarakan sejarah memang tiada habis-habisnya, tiada putus-putusnya. Tiada henti-hentinya. Tidak ada titiknya. Bagaikan matarantai yang saling berkaitan satu sama lain. Akibatnya, tidak sedikit pembaca yang pusing membaca sejarah karena begitu rumitnya jalinan ceritanya. Akan tetapi, dalam buku Girindra: Pararaja Tumapel – Majapahit, Siwi Sang, penulisnya, menuturkannya secara “jlentreh” dan cair. Ibarat gadis, gaya penulisannya begitu kenes, ibarat buah begitu renyah.

Girindra (giri = gunung), raja gunung, bertutur tentang peran dan eksistensi para raja yang berkuasa di Jawa Timur khususnya. Dimulai, pada era Mpu Sindok (929M – 947M), yang semula bertahta di Medang, Jawa Tengah, kemudian “hijrah” ke Jawa Timur, era Tumapel dengan tokoh sentral Ken Arok yang kemudian mendirikan kerajaan Singhasari, dan diakhiri pada zaman Majapahit pada era kepemimpinan Sang Girindrawardhana dyah Ranawijaya (1486 – 1527M), yang lebih dikenal sebagai Brawijaya. Bagaimana “kiprahnya” serta peran apa saja yang dilakukan oleh pelaku sejarah tersebut, dikupas dengan analisis yang tajam, kritis, dan logis. Siapa saja anak keturunannya dan siapa saja pembantu-pembantunya dapat ditemukan dalam buku ini.

Kelebihan buku ini terletak pada gaya bahasa tutur (cerita) yang disampaikan oleh penulis, Siwi Sang. Dengan gaya tutur, memang agak menyimpang dari kaidah penulisan ilmiah, akan sangat mudah dipahami oleh pembaca. Pembaca tidak merasa diberi tahu, apalagi digurui. Pembaca seakan terbius sehingga tak terasa seperti diajak berekreasi ke masa lampau. Ibarat sungai, ceritanya mengalir lancar, pembaca seakan terapung di atasnya, hanyut, berkelok, tidak akan berhenti sebelum sampai muara. Bagaikan cerita fiksi, alurnya memang mengasyikkan, penuh suspens dan surprise. Apa yang akan terjadi selanjutnya.

Sekalipun menggunakan gaya tutur narasi bak cerita fiksi, tetapi Girindra tetap buku ilmiah sejarah, bukanlah buku dongeng. Sehingga pembaca akan “kecele” jika mengharapkan akan menemukan mitologi tentang Mpu Barada. Di dalam mitos, Mpu Barada yang ditugasi Erlangga untuk meredam pertikaian anak-anaknya berebut kekuasaan, harus terbang ke angkasa sambil mengucurkan air keramat dari kendi kencananya yang kemudian aliran airnya berubah menjadi Kali Brantas yang membelah wilayah kekuasaan kedua anak Erlangga. Juga tak mungkin ditemukan legenda terbentuknya tlatah Kalangbret karena Adipati Kalang tewas tercabik-cabik terbunuh di tengah hutan.

Kalaupun, ada tutur yang berbau “mistis” adalah kisah siapa sebenarnya Ken Arok. Menurut kisah, Ken Arok adalah anak yang kabur kanginan, tidak diketahui keturunan siapa. Akan tetapi, Siwi Sang berani mengatakan bahwa Ken Arok merupakan keturunan berdarah luhur. Bayi Ken Arok mengeluarkan cahaya menyala. Jaman dulu bayi hebat, bayi keturunan leluhur selalu dilambangkan mengeluarkan cahaya. Hal ini hanya perlambang.

Di bagian lain, Siwi Sang dengan jlentrehnya menulis, yang selama ini tabu dilukiskan oleh penulis sebelumnya, bahwa Ken Arok terkesima ketika melihat bagian terlarang Ken Dedes, saat kain panjangnya tersingkap. Ken Arok tanpa sengaja melihat cahaya mencorong di bagian terlarang tersebut. Maka dapat dipahami sebagai perlambang, bahwa Ken Dedes merupakan sosok keturunan luhur yang kelak pasti menurunkan keturunan yang luhur pula. Akibatnya, Ken Arok ingin memperisterinya.

Akan halnya Gajah Mada, siapa sebenarnya Gajah Mada? Mirip dengan Ken Arok, selama ini diyakini bahwa Gajah Mada berasal dari kalangan atau keturunan orang kebanyakan. Tidak ada aliran darah biru di tubuhnya. Akan tetapi, Siwi Sang dengan lugasnya mengatakan bahwa Gajah Mada adalah keturunan Raden Wijaya dari salah seorang selirnya (h. 149).

Pendapat lain yang patut diperhatikan dan diacungi jempol adalah keberanian Siwi Sang yang menyebutkan bahwa pada tahun 1400ç/1478M, Majapahit belum hancur seperti terpateri di benak masyarakat selama ini. Pada tahun 1400çaka (sirna ilang kertaning bhumi) pada kenyataannya Majapahit belum hancur. Majapahit masih eksis dengan darah Girindra sebagai penguasa yaitu Bhre Kertabhumi Girindrawardhana dyah Ranawijaya yang lebih dikenal sebagai Brawijaya Pamungkas.

Lalu, bagaimana peran Tulungagung? Bagi pembaca kritis, akan mampu mengambil kesimpulan bahwa tlatah Tulungagung merupakan bagian penting dari Majapahit. Tulungagung ternyata merupakan daerah tapal kuda pada saat itu. Peran sejarah Tulungagung tidak lepas dari tokoh sentral, yaitu ibu suri Majapahit, Dyah Gayatri.

Adalah Rajapatni dyah Gayatri, ibu suri Majahapit yang mempunyai kewibawaan besar yang sangat dihormati dan dipundi. Rajapatni Dyah Gayatri berdarah Ken Arok dan Ken Dedes, dan Tunggul Ametung (h. 159). Prapanca memujinya sebagai sumber bahagia dan pangkal kuasa. Lantaran ingin berjuang di jalan Boddha, dyah Gayatri kemudian memilih bersemayam di daerah Junjung, Goa Pasir, Tulungagung sebagai wikuni. Jelas tlatah ini menjadi daerah yang sering dikunjungi pembesar kerajaan. Selain menjenguk dyah Gayatri, mereka juga mengunjungi tempat pendarmaan Raden Wijaya di Simping, di timur Junjung. Walhasil, Junjung menjadi pusat pendidikan ilmu agama (Boddha) dan pertapaan atau karesian, karsyan.

Dyah Gayatri wafat tahun 1350M. Setelah wafat, kemungkinan besar jenasahnya tidak dibawa ke Majapahit tetapi langsung diperabukan di sebuah candi, yaitu Candi Dadi, terletak di puncak bukit Walikukun, di dusun Kedungjalin, desa Junjung Sumbergempol. Sementara abu jenasah ditanam di wilayah Boyolangu.

Kelebihan lain dari buku ini, adalah, tampaknya Siwi Sang menginginkan buku Girindra enak dibaca oleh segala lapisan masyarakat, sehingga penulisan catatan kaki dipusatkan menjadi satu di halaman tersendiri. Alhasil, pembaca akan merasa nyaman membaca buku besutannya tanpa terganggu kehadiran catatan kaki di halaman bawah.

Terus terang untuk mencari kelemahan buku ini memang terbilang sulit. Akan tetapi setelah melakukan pendekatan “mencari-cari kesalahan”, ditemukan kekurangan buku ini. Ada tiga kelompok kekurangan, yang sebenarnya tidak prinsip: 1) data pendukung, 2) kata tidak baku, 3) kata yang kurang.
1) Data pendukung
Data ini tidak mempunyai foto atau ilustrasi sebagai data pendukung. Oleh karena itu, alangkah baiknya, jika buku ini dilengkapi dengan data pendukung. Bisa berupa foto-foto peninggalan arkeologi, bisa berupa candi, prasasti, situs atau lainnya.

2) Kata tidak baku
a) ...“Tak pakai lama....” (h. 19) seharusnya istilah bakunya, “Tidak lama berselang,....atau tidak beberapa lama kemudian ....”
b) istilah dimajukan (h. 34 dan 200) lebih tepat jika “diajukan”. Dimajukan bermakna digeser ke depan, sedang diajukan bermakna disodorkan untuk dianalisis atau diolah.

3) Kata yang kurang
Dalam subbab Senja Majapahit (h. 237), tertulis kutipan Serat Pararaton, kelebihannya pembaca diajak untuk membaca kritis, penulisan candra sengkala, misalnya, langsung diikuti dengan penulisan angka tahun çaka, angka tahun tidak dimasukkan dalam kurung. Kemudian diikuti penulisan angka tahun masehi. Sangat pas. Hanya saja, bagi pembaca awam, yang kurang paham dengan candra sengkala, seyogyanya penulisan candra sengkala menggunakan huruf tebal (bold) sebelum angka tahun çaka.

Untuk terjemahan, memang ada kekurangannya. Bukan kurang dalam artian bobot tulisan, melainkan memang benar-benar ada kata (candra sengkala) yang kurang seperti yang tertulis di h. 238: untuk terjemahan tahun çaka 1373 hanya tertulis “bahmi parwata kayeku”...seharusnya “moktaçaka bahmi parwata kayeku”.

Kesimpulan akhir, seyogyanya tidak hanya mereka yang berkecimpung di bidang sejarah dan kepurbakalaan yang seharusnya membaca buku ini, tetapi juga khalayak ramai, seperti guru, siswa serta mahasiswa, dan masyarakat gemar membaca pada umumnya. Mengutip slogan Majalah Tempo, maka buku enak dibaca dan perlu. (Yudimanto, Komunitas Jurnalis Warga Tulungagung)

Tentang Penulis GIRINDRA, Pararaja Tumapel – Majapahit
Siwi Sang lahir di Banjarnegara, Jateng, 15 Oktober 1976. Sejak kecil sudah gemar membaca sejarah Nusantara, cerita babad, dan pewayangan. Pendidikannya, mulai SD hingga SMA dihabiskan di kota kelahirannya. Kemudian melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum UMY.

Saat ini, penulis yang tinggal di Tulungagung dan berkecimpung di Dewan Kesenian Tulungagung ini, sedang menyelesaikan novel sejarah triloginya “Kertabhumi: Sepi Menari di Atas Bumi”.

Last modified on Wednesday, 15 January 2014 12:19
Yudi Manto

Jurnalis Warga Tulungagung, Puskakom - Kinerja USAID

Leave your comments

Post comment as a guest

0
Your comments are subjected to administrator's moderation.
  • dwihatmoko

    Mohon bantuan untuk mendapatkan buku Girindra: Pararaja Tumapel-Majapahit karya Siwi Sang. Terimakasih