Disperindag Bina Perajin Keripik Pisang

Kerjasama saling menguntungkan antar IKM perajin keripik pisang.

Pengumuman Pemenang Lomba Mewarna dan Melukis

Dalam Rangka Peringatan Hari Lingkungan Hidup Tahun 2014.

Peningkatan Layanan Kesehatan Ibu dan Anak

Dilatarberlakangi oleh terbitnya Perbup tentang Jaminan Layanan Persalinan Anak, IMD, dan Pemberian ASI Eksklusif.

tayub

Anggapan Tayub sebagai tarian mesum merupakan penilaian yang keliru. Sebab, tidak seluruh Tayub identik dengan hal-hal yang negatif. Dalam Tayub, ada kandungan nilai-nilai positif yang adiluhung. Selain itu, Tayub juga menjadi simbol yang kaya makna tentang pemahaman kehidupan dan punya bobot filosofis tentang jati diri manusia.

Kesan Tayub sebagai tarian mesum muncul pada abad 19. Pada 1817, GG Rafles dari Inggris, dalam bukunya berjudul ''History of Java'', menulis Tayub sebagai tarian ronggeng mirip pelacuran terselubung. Kesan sama juga dituliskan oleh peneliti asal Belanda, G Geertz dalam bukunya ''The Religion of Java''.

Tapi, menurut koreografer Tayub Wonogiren, S Poedjosiswoyo BA, orang Jawa akan protes bila kesan Rafles dan Gertz itu diterima secara utuh. Sebab, kata dia, kesan mesum yang diberikan pada Tayub hakikatnya terbatas pada pandangan sepintas yang baru melihat kulitnya saja, tanpa mau mengenali isi maupun kandungan nilai filosofisnya.

Dalam buku ''Bauwarna Adat Tata Cara Jawa'' karangan Drs R Harmanto Bratasiswara disebutkan, Tayuban adalah tari yang dilakukan oleh wanita dan pria berpasang-pasangan. Keberadaan Tayub berpangkal pada cerita kadewatan (para dewa-dewi), yaitu ketika dewa-dewi mataya (menari berjajar-jajar) dengan gerak yang guyub (serasi).

Menurut Poedjosiswoyo, berdasarkan sejarahnya, Tayub lahir sebagai tarian rakyat pada abad Ke XI. Waktu itu, Raja Kediri berkenan mengangkatnya ke dalam puri keraton dan membakukannya sebagai tari penyambutan tamu keraton. Betapa Tayub memiliki kandungan nilai adiluhung, kiranya dapat disimak dari tulisan dalam buku ''Gending dan Tembang'' yang diterbitkan Yayasan Paku Buwono X.

Dalam buku itu disebutkan, Tayub telah dipakai untuk penobatan Prabu Suryowiseso sebagai Raja Jenggala, Jawa Timur, pada abad XII. Keraton Jenggala kemudian kemudian membakukan Tayub sebagai tari adat kerajaan, yang mewajibkan permaisuri raja menari ngigel (goyang) di pringgitan untuk menjemput kedatangan raja.

Nilai Agamis

Tayub juga diyakini memiliki kandungan nilai agamis. Hal itu terjadi pada abad XV, ketika Tayub digunakan sebagai media syiar agama Islam di pesisir utara Jawa oleh tokoh agama Abdul Guyer Bilahi, yang selalu mengawali pagelaran ayub dengan dzikir untuk mengagungkan asma Allah.

Budaya kejawen penganut paham tasawuf menilai Tayub kaya kandungan filosofis akan gambaran jati diri manusia lengkap dengan anasir keempat nafsunya. Dalam tarian itu selalu ada penari pria yang menjadi tokoh sentral, sebagai visualisasi keberadaan Mulhimah. Kemudian dilengkapi dengan empat penari pria pendamping, yang disebut sebagai pelarih, sebagai penggambaran anasir empat nafsu manusia, terdiri atas aluamah (hitam), amarah (merah), sufiah (kuning) dan mutmainah (putih).

Selain itu, pemeran penari tledhek wanita sebagai penggambaran dari cita-cita keselarasan hidup yang diidamkan manusia. ''Yang inti kesimpulannya, untuk meraih cita-cita, harus terlebih dahulu mampu mengendalikan anasir empat nafsu. Yang ini identik dengan pakem wayang lakon Harjuno Wiwoho-Dewi Suprobo,'' kata Poedjosiswoyo.

Di Tulungagung, Tayub juga dikenal sebagai Lelangen Beksa. Kesenian ini berpotensi sebagai sarana pergaulan yang merakyat dan aktual. Hampir di setiap bulan "baik", Lelangen Beksa digelar untuk acara hajatan di daerah pinggiran Tulungagung.

  • Sang Senior yang Masih Renyah Bersuara

    Sang Senior yang Masih Renyah Bersuara

    Bagi Anda yang berusia 50 tahun ke atas tentu masih ingat bahwa dalam dekade 70-an, di kota Tulungagung tercinta ini bertebaran radio swasta (non-RRI), yang dahulu dikenal sebagai radio amatir (radam). Ada Alpha Sierra sang pelopor, Rada Patma, Sriwijaya, AK27, Ratna, dll. Sederet penyiar idola yang lekat bagi pendengarnya ada Kak Awi (Asnawi), Eyang Prawiro Sumeleh (Bp. Darmo Suwarno), Mas Tango Alpha (Soedjarwo), Si Joko Umbaran, Cak Bowo, SdobelW (Suripto Worawari), Bang Hendro (Hendro Murnomo), Mbak Rini DS (Muharini), Mbak Monica, Mbak Alpha Sierra Tanggo India (Asti), Mbak Susi (Setyo Suswati), Mbak Wiwiet (mbak Widji), dll.

  • Kayuhan Harapan

    “Klek, klek, klek”. Bunyi sepeda yang selalu setia menemaniku kemanapun aku pergi, menyusuri jalan untuk meraih asaku. Sepeda mini pemberian ayah, saat aku masih duduk di bangku SMP. Memang sudah cukup tua usianya jika dibandingkan dengan usiaku sekarang. Suara sepeda seolah berkata bahwa ia telah renta, yang terkadang juga menyita perhatian orang yang ada di jalan. Tapi, semua itu tidak aku hiraukan. Aku tetap gigih mengayuh sepedaku. Bak berpacu dengan waktu, keringat yang bercucuranpun aku tepis dengan usapan tanganku.

  • Indahnya Jampersal Tak Lagi Dirasakan

    Itulah status Facebook dari seorang bidan bernama Lisa Wiratna Sari, yang sontak membuat penulis merasa tergelitik untuk menelusuri kabar kebenaran berita tersebut. Saat dikonfirmasi lewat inbox Facebook, Lisa begitu panggilan akrab bidan lulusan STIKES Tulungagung ini, membenarkan bahwa Jampersal kini sudah dihapus dan sudah tidak diberlakukan lagi. Kabar penghapusan Jampersal ini diamini oleh Lely Christina, bidan Desa Sobontoro. Bu Lely, begitu panggilan akrab bidan yang mempunyai dua anak ini, menjelaskan Jampersal telah tidak diberlakukan lagi sejak 1 Januari 2014.